Edam Burger & Cafe

Jl. Raya Malaka No. 122
Jakarta Timur

Phone: 021.862.3455
Fax: 021.8660.6902
E-mail: edampusat@yahoo.com
Website: http://www.edamburger.com

Area: Klender

Price range per person:

Under Rp 20rb

Payment:

Cash

Hours of operation:

Senin - Minggu, 08.00 - 22.00

Restaurant capacity:

30 meja

Reservation:

Unavailable

This information has been accessed:

1130 times

View all branches »
Photo for Edam Burger & CafePhoto for Edam Burger & CafePhoto for Edam Burger & CafePhoto for Edam Burger & Cafe

About Edam Burger & Cafe:

Burger, fastfood yang satu ini mulai digemari dan akhirnya menjadi sangat kondang di Indonesia sekitar 10 tahun yang lalu. Dulu hanya brand terkenal saja yang memproduksi burger, tapi kini banyak produsen lokal yang telah memproduksi burger dan tak kalah lezatnya dengan produk import. Made Ngurah Bagiana, berbagi kisah usahanya memproduksi burger.

Siapa yang tak kenal dengan makanan impor yang satu ini. Lapisan makanan terdiri dari roti, daging olahan, selembar keju, selada segar, irisan tomat, dan mentimun, begitu menggiurkan. Apalagi tambahan saus mayonnaise yang kian membuat fastfood asli dari Negeri Paman Sam ini digilai banyak kalangan.

Karena kompisisi bahan yang digunakan tergolong mahal, tak pelak harga jual burgerpun lumayan mahal. Tapi itu dulu, sekarang tidak mahal lagi. Di tangan pria asal Bali, burger yang katanya mahal dan hanya bisa dijangkau kalangan tertentu, kini bisa dinikmati siapa saja.

Mengusung merk Edam, lelaki kelahiran Singaraja, 12 April 1956, mengolah dan membuat burger serta bahan pelengkapnya dengan harga yang murah dan terjangkau untuk semua kalangan. Dulu orang tak mengenal namanya. Dalam kancah bisnis ketika itu memang bukan siapa-siapa. Namun, namanya langsung mencuat ketika bisnisnya meroket. Setelah itu ia pun mulai diperhitungkan. "Saya sekarang, tetap saya yang dulu, tolong jangan dilebih-lebihkan," katanya merendah. Begitu Made Ngurah Bagiana, pengusaha sukses yang bergerak di bidang roti burger. Ia tetap sederhana dan nyaris tak berubah seperti dirinya masih kere. "Saya tetap belajar dari masa lalu, karena itu dalam hidup saya tetap selalu sederhana," cetusnya lagi.

Ia memulai bisnisnya ini dari nol. Berawal dari dua gerobak yang ia kayuh sendiri."Dulu saya ke luar masuk gang, bermandikan keringat," ia mengenang. Berkat ketekunannya selama 15 tahun lebih mengembangkan usahanya, kini usaha berjualan roti keliling itu sudah beranak pinak menjadi ribuan. Belum lagi 2.000-an lebih counter burger yang diolah kini merambah ke berbagai penjuru kota. Jabotabek adalah pasar utama pengusaha berdarah Bali ini. Di setiap sudut Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara kinipun dijangkaunya.

"Jujur saja, saya tak pernah memimpikan bakal punya usaha sebesar ini. Dulu, ketika memulai, saya hanya memodalkan dua gerobak roti burger dengan modal apa adanya. Karena saya ulet, akhirnya usaha saya selama 15 tahun ini kini membuahkan hasil. Saya merasa ini sebagai karunia Tuhan yang patut saya Syukuri," jelas pria kelahiran Singaraja, 12 April 1956 ini yang sempat pula merangkul pengusaha nyentrik, Bob Sadino (BS) untuk menjadi rekan bisnisnya.

Apa rahasia terbesar kesuksesan pengusaha roti burger ini hingga berhasil menyabet penghargaan 50 Enterprise dukungan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pada tahun 2004?
"Rahasianya tak banyak. Cukup fokus pada satu bidang, yaitu menjual roti burger berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, ulet meluaskan pangsa pasar dan menjaga hubungan dengan para pelanggan. Saya yakin dengan filosofi menabur dan menuai. Siapa yang menabur kebaikan, pasti berbuah kebaikan juga," ungkap mantan kernet bus PPD, sopir omprengan hingga penjual lukisan ini dengan nada merendah.
"Saya tidak pernah malu dan gengsi mengerjakan apa pun asal halal dan terhormat. Bagi saya, Kesuksesan pintu yang bisa dilewati siapa saja, asal orang itu punya komitmen terhadap usahanya," jelas Made dengan nada mantap.

Perjalanan Made Ngurah Bagiana memboyong sukses memang bukan hadiah dari langit. Karirnya dimulai setelah lulus STM Bangunan dari bekerja sebagai kuli bangunan di Pasar Minggu pada tahun 1986. Lalu pada tahun berikutnya, ia sempat menjual telur ke berbagai rumah. Semua itu demi mempertahankan agar dapur rumah tangganya tetap ngepul. Karena terbentur modal dan pangsa pasar yang sempit, ia membanting stir ke arah usaha handycrap. Mulailah pria mantan mahasiswa Universitas Jakarta Fakultas Teknik Arsitektur yang sempat Drop Out itu merintis usaha di bidang penjualan patung kayu bermotif Bali.

"Sepertinya tak ada usaha yang mudah saat itu. Semuanya di mulai dengan modal apa adanya. Saya teringat, waktu itu keluarga saya kesulitan ekonomi. Untuk makan saja sepertinya sudah pas-pasan," jelas pemilik usaha Edam Burger and Bakery ini yang kini usahanya telah mendapat banyak pelanggan, terutama ibu rumah tangga kalangan menengah ke bawah.

"Ia menambahkan, pada tahun 1988 hingga 1989, karena sulit mendapatkan pekerjaan, dirinya sempat pula menjadi supir omprengan jurusan Cililitan - Pulo gadung serta trayek Kampung Melayu. Selama setahun itu, pahit getir menjadi sopir dan kenek saya nikmati bulat-bulat. Saya sangat menikmati prosesnya, hingga suatu saat kesempatan itu datang. Bagi saya, menjalani hidup itu enaknya sepeti air yang mengalir. Jalani saja tanpa perlu berencanakan menjadi apa kita nanti," Made befilosofi.


Potret Sukses Edam Burger

Kini burger keliling Made bukan saja berkutat dari kampung ke kampung, tapi sudah menjadi raja di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Ide sederhananya dulu, yaitu menjual burger murah kepada masyarakat kecil mulai berbuah. Kini bukan saja pengusaha kecil sesama pengusaha roti, akan tetapi pengusaha kakap pun terkesima dengan keberhasilan Made, si gerobak keliling kampung ini. Menurutnya dari hari ke hari usaha roti yang ditekuninya makin maju pesat.

"Sebenarnya, tujuan saya bukan hanya berdagang semata. Ada misi moralnya, yaitu ingin meberikan makanan bermutu tinggi dengan harga sangat terjangkau kepada masyarakat luas. Di samping itu, saya juga membuka peluang kepada siapapun, kalau perlu saya yang mambantu penyediaan rotinya," tutur Made yang memberikan lapangan pekerjaan, terutama kepada ibu rumah tangga sebagai usaha sampingannya.

Kini Made memiliki 12 pabrik roti dengan kurang lebih 2.000 mitra counter, gerobak, cafe, dan resto di seluruh Indonesia. "Saya akan terus berusaha, sebab dengan berusaha saya akan merasa hidup ini bisa berarti," kilah Made yang menyebut dirinya sebagai seorang yang tak pernah kenal menyerah.

Seiring dengan perkembangan ini, Edam mulai mengorbit di berbagai media cetak seperti majalah, koran tabloit, dan lain-lain. Dan media elektronik seperti TV7, Indosiar, RCTI, TVRI, dan lain-lain serta diundang menjadi pembicara di berbagai seminar di seluruh Indonesia.

Additional information:

Berbagai penghargaan yang pernah kami raih:
1. Penghargaan "The Inspiring People" dari Menteri Sosial tanggal 27 April 2006.
2. Penghargaan "The Indonesia Small & Medium Bussines Enterpreneur" dari Menteri Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tanggal 23 Juni 2006.
3. Penghargaan dari Menteri Kehutanan tanggal 30 Mei 2006 di Pekan Baru, Riau.
4. Penghargaan International Profesional award dan Interprise 50 UKM terbaik tahun 2003 50 versi SWA.
5. Peraih INSPIRING PEOPLE dari MENSOS.

Cuisine

  • Indonesian

Establishment

  • Hamburgers & Hot dog
  • Restaurant (general)

Dining options

  • Delivery
  • Dine in
  • Take out

Facility

  • Breakfast
  • Family friendly
  • Indoor dining
  • Live entertainment
  • Live TV
  • Parking space
  • Party / events package
  • Romantic dining
1 visitor reviews Food: 4/5 Service: 4/5 Atmosphere: 3/5
Share your thoughts with other visitors:

ditori.com site help:

Site map : Help

Language selection:

Ubah ke Bahasa Indonesia

Copyright © 2007 - 2009 ditori.com.